Rutan Raha luncurkan pembinaan Sigap Bina Raha untuk atasi over kapasitas di blok hunian

Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B Raha, Sulawesi Tenggara (Sultra), resmi meluncurkan inovasi pelayanan dan pembinaan bertajuk SIGAP BINA RAHA (Sistem Gelombang Adaptif Pembinaan Warga Binaan Berbasis Kolaborasi), untuk mengatasi over kapasitas di blok hunian.
Ia menyampaikan bahwa berdasarkan data terkini, Rutan Kelas II B Raha dihuni oleh 307 orang yang terdiri atas 225 narapidana dan 82 tahanan, sementara kapasitas normal hunian sebenarnya hanya menampung 210 orang.
“Kondisi ini menyebabkan tingkat hunian mencapai 146 persen,” kata Andi Fahriadi.
Dia menyebutkan di sisi lain, jumlah petugas pembina tercatat sebanyak 78 orang, yang menjadikan rasio antara petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sangat timpang. Rancangan ini berangkat dari tantangan nyata yang dihadapi Rutan Kelas II B Raha, yaitu kelebihan kapasitas hunian yang berdampak pada belum optimalnya pembinaan warga binaan.
“Melalui sistem pembinaan bergelombang yang berbasis pemetaan risiko dan kolaborasi, pihak rutan berupaya memastikan keterbatasan ruang serta sumber daya tidak menurunkan kualitas pembinaan. Dengan demikian, hak-hak warga binaan untuk mendapatkan pembinaan tetap terpenuhi dan proses reintegrasi sosial dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Andi Fahriadi mengungkapkan peluncuran inovasi SIGAP BINA RAHA ini juga sejalan dengan astacita terkait penguatan reformasi birokrasi, tata kelola, serta pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul melalui pelayanan publik yang efektif.
“Program ini mencakup sepuluh tahapan kegiatan, mulai dari pembentukan tim efektif, pemetaan risiko dan kebutuhan WBP, penyusunan SOP serta jadwal pembinaan bergelombang, penyediaan modul, hingga penjajakan kerja sama pentahelix,” ungkapnya.
Penerapan sistem kolaborasi pentahelix ini melibatkan berbagai unsur penting, di antaranya pemerintah untuk mendukung capaian kinerja pemasyarakatan dan menekan risiko gangguan kamtib.
Selain itu, akademisi dilibatkan untuk membuka ruang riset dan KKN tematik, dunia usaha guna membuka peluang kemitraan pembinaan dan CSR, komunitas serta masyarakat untuk mendukung reintegrasi sosial, serta media yang berperan aktif menyebarluaskan informasi positif.
“Melalui implementasi program yang mencakup uji coba pada blok percontohan, monitoring, serta evaluasi berkala ini, kami bertekad untuk terus menghadirkan pelayanan pemasyarakatan yang adaptif, aman, tertib, dan berdaya guna bagi masyarakat luas,” tambahnya. (bsnn)




