Industri Makin Butuh Energi Hijau, REC PLN Tembus 6,43 TWh

Kebutuhan energi hijau di sektor industri terus berkembang seiring meningkatnya komitmen perusahaan terhadap dekarbonisasi dan keberlanjutan. Hal ini tercermin dari pemanfaatan renewable energy certificate (REC) PLN yang mencapai 6,43 terawatt-jam (TWh) dengan 18.715 pelanggan sepanjang 2025.
Jumlah pelanggan tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 7.354 pelanggan. Sementara itu, kapasitas REC yang dimanfaatkan naik dari 5,38 TWh pada tahun sebelumnya menjadi 6,43 TWh pada 2025.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan perusahaan terhadap atribut energi terbarukan untuk mendukung strategi keberlanjutan dan pelaporan dekarbonisasi.
PT Energy Management Indonesia (Persero) atau PLN Energy Management Indonesia (PLN EMI), sebagai bagian dari PLN Group, mengembangkan solusi energi hijau bagi pelanggan industri dan korporasi. Salah satu instrumen yang ditawarkan adalah REC, yaitu sertifikat yang memberikan pengakuan atas penggunaan listrik dari pembangkit energi terbarukan.
Kebutuhan terhadap instrumen tersebut turut dipengaruhi oleh meningkatnya komitmen perusahaan untuk menggunakan energi terbarukan. Salah satunya melalui inisiatif global RE100, yang mendorong perusahaan menggunakan 100% listrik dari sumber energi terbarukan.
Direktur Utama PLN EMI Henri Firdaus mengatakan, perusahaan berupaya membantu pelanggan memenuhi kebutuhan energi terbarukan melalui solusi yang kredibel dan transparan.
“PLN EMI hadir bukan hanya sebagai penyedia produk, tetapi sebagai partner bagi pelanggan dalam perjalanan menuju dekarbonisasi. Melalui REC dan solusi energi hijau lainnya, kami ingin memastikan kebutuhan pelanggan terhadap energi terbarukan dapat dijawab dengan solusi yang kredibel, transparan, dan sesuai dengan perkembangan standar global,” ujar Henri melalui keterangan resmi, Jumat (9/10/2026).
Menurut Henri, pertumbuhan kebutuhan REC menunjukkan semakin banyak perusahaan yang mengintegrasikan energi terbarukan ke dalam strategi keberlanjutan dan daya saing bisnis.
“REC bukan sekadar sertifikat, tetapi merupakan bagian dari upaya perusahaan membangun portofolio energi yang lebih bersih dan mendukung pencapaian target keberlanjutan. Karena itu, PLN EMI terus berupaya memastikan kualitas, transparansi, dan kredibilitas REC agar dapat memenuhi kebutuhan pelanggan, termasuk perusahaan yang memiliki komitmen dan standar keberlanjutan di tingkat global,” jelasnya.
Smelter dan Pertambangan Jadi Kontributor
Permintaan REC PLN EMI berasal dari berbagai sektor industri, antara lain pertambangan, manufaktur, kimia, pulp dan kertas, industri makanan, serta data center.
Sektor smelter dan pertambangan menjadi salah satu kontributor penting bagi penjualan REC PLN EMI. Di sektor smelter, PT Ceria Metalindo Prima dan PT Smelting tercatat sebagai pelanggan dengan kontribusi pembelian REC terbesar. Sementara itu, di sektor pertambangan, kontribusi terbesar berasal dari PT Borneo Indobara.
Permintaan dari kedua sektor tersebut mencerminkan kebutuhan industri untuk memasukkan penggunaan energi terbarukan ke dalam upaya memenuhi target dekarbonisasi dan keberlanjutan perusahaan.
Untuk menjawab kebutuhan pelanggan, PLN EMI tidak hanya berfokus pada transaksi REC, tetapi juga pada pengelolaan atribut energi terbarukan, pemenuhan kebutuhan pelanggan, serta dukungan terhadap pelaporan keberlanjutan dan dekarbonisasi.
PLN EMI juga memperkuat kolaborasi strategis untuk meningkatkan kredibilitas dan daya saing solusi energi hijau di Indonesia. Salah satunya melalui kolaborasi PLN dengan The Climate Group melalui RE100, yang diarahkan pada pengembangan metodologi, peningkatan kualitas dan transparansi REC, penguatan kompetensi, serta pertukaran data dan kajian kebijakan terkait energi terbarukan.
Henri menilai kolaborasi dengan pelanggan dan pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam mempercepat transisi energi.
“Kami ingin PLN EMI hadir sebagai green energy partner, bukan hanya sebagai penyedia produk. Kami ingin tumbuh bersama pelanggan, memahami kebutuhan mereka, dan menghadirkan solusi energi hijau yang dapat memberikan nilai nyata bagi keberlanjutan bisnis mereka. Inilah semangat partnership yang ingin kami bangun melalui forum ini,” pungkas Henri.
Komitmen tersebut turut diwujudkan melalui Green Energy Partnership Forum 2026 yang mempertemukan PLN EMI dengan pelanggan, mitra strategis, dan pemangku kepentingan. Forum ini menjadi wadah untuk membahas tantangan dekarbonisasi, perkembangan standar energi terbarukan global, serta peluang kerja sama dalam memperluas pemanfaatan energi hijau di sektor industri dan korporasi.
Melalui forum tersebut, PLN EMI berharap dapat memperkuat kemitraan dengan pelanggan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan energi hijau yang terus berkembang. Pemanfaatan REC dan solusi energi terbarukan lainnya diharapkan dapat mendukung upaya perusahaan mengurangi emisi sekaligus mendorong transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan rendah karbon. (bsnn)




