Berita Nasional

BRIN Dorong Hilirisasi Riset agar Indonesia Mampu Jadi Negara Maju

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan hilirisasi riset di bidang sains dan teknologi agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan industri dan mendukung Indonesia menjadi negara maju.

Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN Edy Giri Rachman Putra mengatakan, penguatan sains, teknologi, dan hilirisasi menjadi faktor penting dalam pembangunan negara maju.

“Negara maju tentunya akan didukung dengan kuatnya sains, teknologi dan hilirisasi. Tentunya di BRIN juga sebagai salah satu-satunya lembaga riset nasional di Indonesia, memiliki program ataupun strategi ataupun kebijakan bahwa hasil riset kita harus sampai ke hilir,” ucapnya dalam agenda Talent Fest 2026 MTN Goes to Campus di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (26/10/2026).

Menurut Edy, hasil penelitian tidak boleh berhenti pada publikasi akademis. Riset perlu dikembangkan menjadi pengetahuan yang dapat diterapkan, dilanjutkan ke tahap invensi, hingga menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan masyarakat dan industri.

Salah satu tantangan dalam proses tersebut adalah fenomena valley of death atau “lembah kematian”, yakni kondisi ketika hasil penelitian gagal mencapai tahap komersialisasi. Situasi ini dapat terjadi akibat kesenjangan antara dunia riset yang belum berorientasi pada kebutuhan pasar dan industri yang belum aktif mengadopsi inovasi dari lembaga penelitian.

Untuk mengatasi kendala tersebut, BRIN mengembangkan ekosistem kolaborasi yang menghubungkan perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan talenta riset dengan kebutuhan sektor industri. Upaya itu dilakukan melalui kegiatan Talent Fest yang mempertemukan pelaku industri dengan pengelola manajemen riset untuk memperkuat pengembangan produk berbasis penelitian.

“Ini sangat luar biasa dan tentunya ini menjadi salah satu hal yang mungkin kita sama-sama akan kembangkan sama teman-teman dari perguruan tinggi,” ungkap Edy.

Ke depan, BRIN juga mendorong perubahan orientasi program riset pada jenjang magister (S-2), doktor (S-3), hingga pascadoktoral. Penelitian diharapkan tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjawab persoalan yang dihadapi industri.

Strategi penguasaan teknologi turut diarahkan melalui skema pengembangan bersama atau co-development, dengan melibatkan mitra yang memiliki kemampuan teknologi tinggi.

“Jadi kita tidak lagi ke depan menerima barang jadi, tapi mengajak mitra kita terutama yang menguasai teknologi tinggi itu melakukan co-development bersama teman-teman di BRIN, di perguruan tinggi atau lembaga riset di Indonesia untuk mengembangkan bersama-sama teknologi-teknologi yang memang lebih relevan dengan kebutuhan Indonesia. Di sinilah kita akan lebih ter-engaged, lebih mudah untuk menghilirkan hasil riset kita ke dunia industri,” kata Edy. (bsnn)

Related Articles

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker